Jumat, 04 Februari 2011

"Crop Circle", Karya Seni di Ladang



OLEH YUNI IKAWATI



Penemuan crop circle di persawahan di Sleman dan Bantul baru-baru ini menggegerkan masyarakat.

Fenomena baru di Indonesia ini menimbulkan banyak spekulasi.

Namun, penyelidikan tim Lapan membuktikan itu hanyalah kreasi manusia.

Nyatanya sebagian besar crop circle yang ditemukan di banyak negara adalah salah wujud karya seni lingkungan.

Kemunculan crop circle, yaitu pola lingkaran yang dibentuk di ladang pertanian, seperti padi, gandum dan jagung, tujuannya untuk menghasilkan gambar seni dalam ukuran raksasa.

Sebagian besar gambar yang diciptakan berbentuk lingkaran sesuai namanya.

Belum diketahui awal munculnya fenomena ini.

Namun, pola lingkaran di ladang, disebut sebagai ”Mowing Devil”, muncul pada ukiran kayu dari Hertfordshire, Inggris, pada tahun 1678.

Pada akhir abad lalu, temuan crop circle meningkat, yaitu sejak 1970 berdasarkan laporan dari 26 negara.

Lou Greub, pakar agronomi dari Universitas Wisconsin Amerika Serikat, seperti diberitakan oleh LA Crosse Tribune edisi 13 Januari 2011, mengatakan, ditemukan sekitar 10.000 crop circle di seluruh dunia sejak 1980, 80 persen diantaranya berada di Inggris.

Tim investigator yang dipimpin Barbara Lamb menemukan delapan formasi crop circle di Inggris yang dibentuk dalam waktu 12 jam hingga dua minggu.

Menurut Greub, crop circle di Inggris biasanya dibuat malam hari.

Saksi mata melaporkan melihat cahaya terang atau bola cahaya di ladang, tempat formasi itu ditemukan esok harinya.

Crop circle di Inggris dibentuk dengan metode tertentu, yaitu mengikatkan tali pada papan dan kemudian memutarkannya pada sebuah tiang yang dijadikan pusat putaran, hingga terbentuk pola lingkaran.

Dua pria asal Inggris, Doug Bower dan Dave Chorley, mengungkapkan, pada 1991, mereka membuat banyak crop circle sejak 1978 dengan cara tersebut.

Belakangan ini terbentuk kelompok Circlemakers dan diadakan kompetisi pembuatan crop circle pada 11-12 Juli 1992 di Berkshire, Inggris.

Pembuatan crop circle dimenangkan oleh tiga insinyur dari Westland Helicopters menggunakan tambang, pipa PVC, dan tangga.

Keindahan karya seni ini menjadi obyek yang menarik untuk dinikmati.

Karena itu, fenomena ini kemudian menimbulkan bisnis baru bagi para petani pemilik ladang di Inggris, yang memasang tarif bagi para pengunjung.

Seni tanbo

Seni gambar di ladang ternyata bukan hanya berkembang di Benua Eropa. Dengan teknik lain, bangsa Jepang pun menggunakan ladang untuk ”melukis”, disebut tanbo.

Tanbo merupakan karya seni bangsa Jepang yang menggunakan hamparan persawahan sebagai media dan menggunakan berbagai jenis padi untuk mewarnainya hingga tercipta gambar raksasa.

Pada tahun 1993, penduduk di Inakadate, Perfektur Aomori—di bagian utara Pulau Honshu—menggunakan daerah persawahan sebagai kanvas dan empat jenis padi, baik yang tradisional maupun strain baru untuk menghasilkan gambar raksasa di ladang tersebut.

Untuk melihat gambar secara utuh, mereka membangun menara setinggi 22 meter di kantor desa itu.

Pada tahun 2006, lebih dari 200.000 orang telah mengunjungi desa itu untuk melihat karya seni penduduk di Inakadate.

Pada sembilan tahun pertama, para petani menciptakan gambar yang sederhana, seperti Gunung Iwaki sebelum kemudian mendesain gambar yang lebih rumit.

Mengikuti langkah Inakadate, penduduk desa lainnya antara lain Yonezawa di Perfektur Yamagata, yang berada di selatannya.



Berbagai spekulasi

Crop circle dapat terbentuk akibat fenomena meteorologi.

Begitulah pendapat John Rand Capron pada tahun 1880, yang dipublikasi majalah ilmiah Nature. Ia menyimpulkan fenomena bentuk melingkar di ladang pertanian yang ditemukannya di bagian barat Surrey, Inggris, adalah dampak badai.

Sementara itu, juga muncul dugaan crop circle merupakan tanda adanya kekuatan paranormal.

Hal itu dikaitkan dengan terbentuknya banyak crop circle dekat dengan situs purba, seperti Stonehenge, Barrows, dan Chalk Horses.

Pada tahun 2009, BBC melaporkan pendapat yang menyatakan bahwa hewan kanguru menjadi penyebab utama terbentuknya crop circle di Tasmania, Australia.

Gerombolan hewan itu memakan tanaman sambil bergerak dalam bentuk melingkar.

Lalu ada temuan crop circle di Inggris yang masih misterius.

Karena pola lingkaran itu mengandung isotop radioaktif (vanadium, europium, telurium dan terbium) yang meluruh dari tanah dalam waktu empat jam.

Tanah di lokasi itu mengemisi sinar alfa dua kali lipat dibandingkan normalnya dan emisi beta meningkat 50 persen dan radioaktivitas tanah meningkat hingga tiga kali.

Dari tiga kejadian itu, memang menghasilkan bentuk lingkaran di ladang. Bentuk artistik jelas merupakan hasil kreasi tangan manusia.

LAPAN: "Crop Circle" Sleman Bukan Jejak UFO




Sleman (ANTARA) Rabu, 26 Januari 2011

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional menegaskan "crop circle" yang ditemukan di Dusun Rejosari, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan jejak "unidentification flying objek" atau UFO.

"Dari hasil pengamatan dan penyelidikan kami di lokasi, kami tidak sependapat atau setuju jika `crop circle` merupakan jejak UFO, karena ini murni buatan manusia," kata Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Sri Kaloka, di lokasi di Desa Jogotirto, Selasa sore.

Menurut dia, pola-pola "crop circle" semacam ini sebelumnya banyak ditemukan di sejumlah negara di Eropa, dan beberapa negara lain.

"Pola-pola semacam ini banyak ditemukan di Eropa, dan sejumlah negara di benua lain, ini buatan manusia, hanya saja jika di luar negeri dibuat di area tanaman gandum, tebu atau jagung, sedangkan di sini dibuat di area tanaman padi," katanya.

Ia mengatakan salah satu bukti bahwa "corp circle" itu buatan manusia adalah rebahan batang padi yang roboh menunjukkan akibat ditekan hingga tercabut sampai ke akar-akarnya, bukan pola ditimpa.

"Selain itu, pola tersebut juga banyak yang tidak simetris antara satu dengan lainnya," katanya.

Sri Kaloka mengatakan petunjuk yang paling menguatkan adalah ditemukannya bekas lobang ditancapkannya tongkat atau pipa di tengah lingkaran dan di sisi-sisi lainnya, yang kuat dugaan digunakan untuk sumbu dalam menggerakkan alat penekan batang padi.

"Di bagian tengah, kami juga menemukan ada jalan dan jejak manusia yang ditunjukkan dengan adanya rebahan batang padi yang disisihkan dan ditata kembali. Ini menunjukkan bahwa sebelumnya ada orang masuk ke lingkaran itu," katanya.

Ia mengatakan pihaknya juga menemukan di sekitar pola lingkaran dan pola tengah ditemukan beberapa batang padi yang tidak tertekan sampai roboh.

"Ini juga menandakan bahwa pola tersebut dibuat manusia, karena ada bagian-bagian yang tidak ikut tertekan," katanya.

Selain itu, tim LAPAN juga tidak menemukan adanya bekas-bekas kebakaran di sekitar lingkaran, termasuk sisa pembakaran mesin maupun gas buang.

"Batang-batang padi yang roboh semuanya bekas tekanan, dan tidak ada bekas potongan dengan benda tajam," katanya.

86 Siswi SMA Frayser Memphis Hamil



Siswi-siswi berumur 15-19 tahun ini kebanyakan tidak tahu bagaimana mengatasi kehamilan.



VIVAnews -

Sebuah organisasi perempuan kini tengah sibuk menggalakkan kampanye antikehamilan dan antiseks di Sekolah Menengah Atas Frayser Memphis, negara bagian Tennessee, Amerika Serikat.

Organisasi ini juga mengajarkan para siswi untuk menjawab ‘tidak’ jika ada lelaki yang mengajak mereka berhubungan seks.



Langkah ini diambil setelah pada tahun lalu, sekolah mengeluarkan data yang mengejutkan.

Sebanyak 86 siswi SMA Frayser usia 15-19 tahun kedapatan hamil dan melahirkan di luar nikah.



Kampanye yang dinamakan “Jangan ada bayi!” ini bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada para siswi maupun siswa mengenai bagaimana caranya mencegah dan menanggulangi kehamilan yang tidak direncanakan.

Program ini menitikberatkan pada menanamkan keberanian kepada para siswi untuk berkata tidak untuk seks.



“Saat ini, siswi-siswi tidak tahu bagaimana berkata ‘tidak’, mereka berhubungan seks padahal mereka tidak mau, mereka hanya tidak tahu bagaimana berkata tidak,” ujar ketua penyelenggara dari organisasi non profit Girls Inc, Deborah Hester Harrison seperti dilansir dari laman Fox News, Jumat, 14 Januari 2011.



Pada kampanye ini, para guru-guru di SMA Frayser mempekerjakan pekerja sosial untuk mendampingi para siswa. Petugas sosial ini juga didukung oleh para orangtua murid.



Harrison mengatakan bahwa yang paling memprihatinkan lagi para siswi yang hamil tidak tahu cara mengatasi kehamilan. “Banyak dari siswi-siswi ini tidak siap untuk menjadi orang tua yang efektif, dan hal itu berpengaruh terhadap perkembangan janin,” ujar Harrison.



Hal ini diamini oleh Dr Manny Alvarez dari universitas University Medical Center, New Jersey.

Dia mengatakan bahwa kehamilan usia remaja rentan penyakit. “Kehamilan remaja beresiko tinggi.

Beberapa dari remaja ini beresiko besar mengalami kelahiran prematur, tekanan darah tinggi, dan seringkali harus operasi caesar, karena pinggulnya lebih kecil dari janin,” ujar Alvarez.



Bulan lalu, Departemen Kesehatan AS mengeluarkan data resmi yang menunjukkan pada 2009 terdapat 39 kehamilan dari 1.000 wanita usia 15-19 tahun.

Angka ini meningkat 15 sampai 20 persen dari tahun-tahun sebelumnya.

Minggu, 16 Januari 2011

Karni Butuh Uang, Kasiem Butuh Kebebasan


"JOKI" NARAPIDANA

Karni Butuh Uang, Kasiem Butuh Kebebasan

Jumat, 7 Januari 2011 | 04:39 WIB




Oleh Kris Razianto Mada dan Adi Sucipto Kisswara



Praktik mafia hukum tak hanya berputar di pusat kekuasaan.

Di sudut daerah pun, mafia hukum juga berkeliaran.

Itulah yang terjadi dalam praktik tukar-menukar atau ”joki” narapidana di Lembaga Pemasyarakat- an Bojonegoro, Jawa Timur, 27 Desember 2010.

Karni (57), yang menjadi ”joki” narapidana Kasiem, hanya puncak gunung es mafia hukum.

Dalam kasus Karni-Kasiem, praktik mafia hukum itu berkelindan dengan kemiskinan.

Motivasi Karni semata-mata kesulitan hidup.

Karni butuh uang, sedangkan Kasiem membutuhkan kebebasan karena sakit.

Peluang itu yang dimanfaatkan mafia hukum.

Kebutuhan biaya pengobatan Sadirah (74), sang ayah, menjadi alasan Karni (57) bersedia menggantikan Kasiem dipenjara di LP Bojonegoro.

Sadirah terbaring di ruang tengah rumah di Dusun Kalipang, Desa Leran, Kabupaten Bojonegoro, saat dikunjungi Kompas, Rabu (5/1).

Karni dijanjikan bayaran Rp 10 juta.

Janji itu disampaikan Joni Feriangga alias Angga, mertua salah seorang keponakan Karni.

Namun, Angga baru membayar Rp 7,5 juta. Sisa Rp 2,5 juta tidak jelas kapan akan dibayar.

Mungkin tak akan pernah diterima Karni karena Angga ditahan polisi atas kasus penukaran terpidana tersebut.

Karni sendiri hampir pasti dijadikan tersangka dalam kasus itu.

Angga menyodorkan Karni ke Hasnomo, pengacara Kasiem, karena tahu Karni sedang butuh uang.

Karni harus melunasi utang Rp 6 juta di sebuah bank.

Jika tidak lunas, rumah yang ia tempati bersama Sadirah akan disita.

”Lik (Bibi) Karni menggadaikan sertifikat rumah ini,” ujar Diana, salah seorang keponakan Karni.

Dibandingkan dengan rumah di sekitarnya, rumah Karni relatif lebih baik.

Seluruh bangunan utama berupa tembok bercat putih walau sudah kusam.

Separuh dinding depan dilapisi keramik merah tua.

Namun, rumah itu tidak berplafon sehingga cahaya matahari terlihat menembus di sela-sela genteng.

”Di sini jarang ada rumah bagus.

Warga sini tidak punya penghasilan tetap dan besar.

Sebagian hanya bekerja serabutan, seperti Karni,” ujar Kepala Dusun Kalipang Bambang Budiharto (36).

Karni juga tidak punya penghasilan tetap.

Begitu pula Sutiah, adik Karni, yang juga tinggal di rumah Karni.

Kedua anak Sadirah itu sudah beberapa tahun menjanda dan tidak punya penghasilan.

”Suami Karni meninggal di Sumatera. Kusno, anak Karni, sudah lama bekerja di Kalimantan,” ujar Diana.

Menurut Diana, bibinya otomatis menjadi andalan untuk menutupi biaya pengobatan Sadirah.

Kepolisian Resor (Polres) Bojonegoro juga menetapkan Widodo Priyono sebagai tersangka.

Widodo adalah anggota staf Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro yang mengantarkan Kasiem dari Kantor Kejari Bojonegoro ke LP Bojonegoro.

Polisi juga menetapkan pengacara Hasnomo sebagai tersangka.

Menurut Kepala Polres Bojonegoro Ajun Komisaris Besar Widodo, sampai Kamis (6/1),

polisi sudah memeriksa delapan orang.

Menurut Widodo, Hasnomo dinilai berperan penting karena dimintai bantuan oleh Kasiem untuk meringankan hukumannya dan tidak sampai menjalani hukuman.

Kasiem membayar Rp 22 juta kepada Hasnomo, sebesar Rp 10 juta di antaranya diberikan kepada Karni apabila mau menggantikan hukuman Kasiem.

Penyidik Polres Bojonegoro juga memeriksa Atmari, Kepala Subseksi Registrasi LP Bojonegoro.

Bahkan, Atmari pun diperiksa Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum dan Tim Investigasi dari Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur.

Seusai diperiksa, Atmari membantah tuduhan Hasnomo bahwa dirinya yang punya ide penukaran narapidana.

Atmari menyatakan, hanya pernah didatangi Hasnomo di rumahnya pada awal Desember 2010 terkait dengan eksekusi Kasiem.

Kasiem yang divonis 3,5 bulan penjara karena kasus penyelewengan pupuk bersubsidi mengaku tidak mengenal Atmari dan Karni.

Dia hanya ingin diringankan dan tidak menjalani hukuman dengan meminta bantuan Hasnomo.

Sejumlah mantan narapidana kepada Kompas mengungkapkan, penggunaan ”joki” adalah praktik lazim.

Jupri, seorang mantan tahanan di Jakarta, membenarkan praktik itu lazim di Jakarta dan sekitarnya. ”Tidak aneh kalau hal itu terjadi juga di daerah,” ujarnya.

Kasus joki narapidana itu membuat Jaksa Agung Basrief Arief langsung bertindak.

Bahkan, Kepala Kejari Bojonegoro Wahyudi, karena pengawasan yang kurang baik, ditarik ke Kejagung.

Petugas pengawal tahanan, Widodo Priyono, diberhentikan secara tidak hormat.

Menurut Ketua Ikatan Sarjana Hukum Indonesia Hikmahanto Juwana, kasus ”joki” narapidana di Bojonegoro menambah panjang daftar kekacauan hukum di negeri ini.

Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap tegaknya negara hukum semakin menipis.

Jika hal itu dibiarkan, negara bisa dalam bahaya karena bisa memunculkan pengadilan jalanan.

(BEE/ONG/WHY/AIK/ANA)

Guru Besar UI Didemo Masyarakat Adat Dayak




Liputan 6 - Minggu, 9 Januari



Palangkaraya :

Guru Besar Sosiolog Univeritas Indonesia Prof. Thamrin Amal Tomagola menuai kecaman keras ribuan masyarakat Dayak di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, baru-baru ini.

Pernyataannya dianggap menghina adat istiadat setempat.

Dengan membawa poster dan selebaran, ribuan warga suku Dayak memprotes pernyataan Thamrin yang menyebutkan berhubungan badan tanpa ikatan nikah di Suku Dayak adalah hal biasa.

Pernyataan itu dikeluarkan Thamrin saat menjadi saksi ahli dalam kasus video porno Ariel.

Mereka pun menuntut Thamrin meminta maaf secara terbuka.

Aksi yang dipusatkan di Bundaran Besar Palangkaraya itu sempat membuat kawasan arus lalu lintas macet.

Namun aksi berlangsung damai.

Para pengunjuk rasa langsung membubarkan diri usai berdemo.(ADI/ULF)





Catatan :

Menurut buku-buku Sosiologi, apa yang dikatakan Profesor itu benar

Susahnya jadi sosiolog .....

Andai aku jadi Gayus

Bone Paputungan



Sebelas Maret

Diriku masuk penjara

Awal ku menjalani
Proses masa tahanan



Hidup di penjara

Sangat berat kurasakan

Badanku kurus
Karena beban pikiran



Kita orang yang lemah

Tak punya daya apa-apa

Tak bisa berbuat banyak
Seperti para koruptor



Andai Ku Gayus Tambunan

Yang bisa bisa pergi ke Bali

Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi



Lucunya di negeri ini

Hukuman bisa dibeli

Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan



Tujuh Oktober

kubebas dari penjara

Menghirup udara segar
Lepaskan penderitaan



Wahai saudara

Dan para sahabatku

Lakukan yang terbaik
Jangan engkau salah arah



Andai Ku Gayus Tambunan

Yang bisa bisa pergi ke Bali

Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi



Lucunya di negeri ini

Hukuman bisa dibeli

Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan



Biarlah semua menjadi kenangan

Kenangan yang pahit
dalam hidup ini



Andai Ku Gayus Tambunan

Yang bisa bisa pergi ke Bali

Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi



Lucunya di negeri ini

Hukuman bisa dibeli

Kita orang yang lemah

Pasrah akan keadaan





http://bloggermaniacom.blogspot.com/2011/01/lagu-andai-aku-jadi-gayus.html

http://www.youtube.com/watch?v=-fdKRmNlk7o&feature=player_embedded

Jujur Vs Berbohong

Minggu, 16 Januari 2011 | 03:39 WIB

KRISTI POERWANDARI

Yang tidak biasa dan tergelincir berbohong akan gelisah karena ada yang terasa salah.
Yang berbohong dalam keseharian sebagai cara hidup kehilangan kepedulian, kesantunan, rasa malu, dan martabat.
Mereka adalah titik-titik nila yang merusak susu sebelanga.

Justru karena pernah berbohong, saya jadi mengerti bahwa itu perilaku salah karena langsung saja memunculkan rasa gelisah, takut, dan bingung.
Bahkan, saya langsung merasa muak kepada diri sendiri.
Bahkan, ketika orang lain tidak tahu pun, saya tetap merasa kecewa pada diri sendiri karena tahu apa yang sesungguhnya terjadi.
Terlebih bila gara-gara takut ketahuan, kebohongan itu terpaksa saya tutupi dengan kebohongan lain, kebohongan lain, dan kebohongan lain lagi.

Perilaku apa pun yang intensinya mengarahkan pada penyimpulan yang salah sesungguhnya adalah berbohong.
Semua orang pernah melakukannya, awalnya untuk melindungi diri dari situasi yang dianggap mengancam.

Penelitian Victoria Talwar dkk (2002, 2007) memperlihatkan bahwa perilaku berbohong telah ditampilkan anak pada usia sangat dini.
Satu contoh yang sering disebut adalah penelitian eksperimental, di mana anak diminta tidak mengintip mainan atau tidak bermain dengan mainan yang tersedia ketika ditinggalkan sendirian.
Karena kesulitan mengendalikan dorongan rasa ingin tahu, sebagian besar anak tidak mematuhi instruksi tersebut dan tetap mengintip atau mencoba bermain dengan mainan yang ada.
Ketika kemudian ditanya, mereka tidak mengakui tindakannya.

Mengintip mainan atau bermain bukan suatu tindakan buruk, tetapi dalam tahapan perkembangan moralnya, anak memahami ”baik-buruk” dari sejauh mana mereka mematuhi instruksi.
Jadi, ketika tidak mematuhi instruksi, mereka merasa buruk.
Karena takut dihukum, mereka berbohong.
Yang menarik adalah anak prasekolah menganggap berbohong itu sangat buruk dan yakin seorang yang berbohong akan merasa bersalah.
Mereka bahkan menganggap berbohong karena tidak patuh itu lebih buruk daripada ketidakpatuhan itu sendiri.
Artinya, pada usia sangat dini, anak mengerti bahwa tidak mematuhi aturan itu tidak baik, tetapi lebih buruk lagi berbohong.

Meski berkata jujur jauh lebih baik, menutupi kebenaran atau berbohong itu berbeda-beda kadarnya.
Kekacauan penegakan hukum yang ramai diliput media dan membuat kaget kita semua di awal tahun ini terkait dengan rangkaian perilaku berbohong yang seolah sudah jadi kebiasaan, hobi, cara hidup.
Ini menjatuhkan harga diri bangsa hingga sejatuh-jatuhnya.


Inti korupsi

Talwar menjelaskan bahwa kemampuan untuk berbohong secara meyakinkan akan makin berkembang sejalan usia.
Untuk berbohong meyakinkan, kita harus tidak saja memproduksi pernyataan palsu, tetapi juga menampilkan konsistensi antara pernyataan bohong pertama dan pernyataan-pernyataan berikutnya.
Artinya, kita harus banyak memproduksi rangkaian pernyataan palsu untuk menghindari inkonsistensi agar kebohongan tak terdeteksi.

Ditemukan tidak ada hubungan antara perilaku aktual dan pemahaman konseptual serta moral.
Anak yang menyuruh anak lain bicara jujur toh juga menampilkan perilaku berbohong untuk menutupi kesalahan sendiri.
Tampaknya lebih parah lagi yang tertampilkan pada orang dewasa karena orang dewasa justru sering berkata sangat moral dan religius, tetapi di belakang layar berperilaku sangat berkebalikan.

Menyamarkan, menutupi kebenaran, atau berbohong adalah inti dari semua tindakan buruk, malapraktik, penyelewengan kekuasaan, dan korupsi yang terus- menerus kita bahas belakangan ini.
Sistem makro yang terbangun dapat sangat memudahkan terjadinya kebohongan, penyelewengan, dan korupsi.
Takut terungkap keterlibatannya dalam kasus sama atau kasus-kasus lainnya, atau senang menikmati keuntungan duniawi dari kebohongannya, para pihak diam saja, pura-pura tidak tahu, atau malah melakukan langkah aktif untuk menutup informasi. Demikianlah berbohong dan korupsi melembaga.

Zyglidopoulos (2008) melihat betapa rasionalisasi dan overkompensasi sering digunakan individu untuk mengatasi disonansi atau kekacauan batin akibat berbohong/korupsi.
Vikas Anand dkk (2005) melihat lebih jauh lagi bahwa taktik rasionalisasi digunakan bukan saja oleh individu, tetapi juga kelompok secara kolektif dan kelembagaan untuk menetralisasi penyesalan atau perasaan negatif.
Bahkan, taktik- taktik sosialisasi ”pembenaran” juga kemudian diberikan kepada orang-orang baru yang masuk dalam organisasi.

Menjaga martabat

Yang ngeri adalah bila saking seringnya bicara tidak jujur, manusia mematikan kemanusiaannya: kepedulian, hati nurani, tanggung jawab sosial, dan martabat diri. Bersyukurlah kita yang pernah berbohong, merasa sangat tidak nyaman, dan tersadarkan bahwa itu adalah petunjuk dari kebaikan hidup untuk berhenti.

Bersyukurlah kita yang berhenti pada satu kebohongan, tidak menindaklanjuti dengan rangkaian pernyataan palsu lain.
Bersyukurlah kita yang tidak seperti banyak tokoh yang ramai dimuat dalam media. Mereka sungguh telah membunuh martabatnya karena lebih takut berbicara jujur daripada berbicara bohong, menciptakan realitas palsu untuk menghilangkan kemuakan pada diri sendiri.
Meski hidup dalam ketidakjujuran, fasih berkelit dengan penjelasan teknis-normatif, dan tetap mantap mengklaim diri sebagai pemimpin.

Penegak hukum dan pemimpin yang menutup-nutupi kebenaran dan tidak mampu berkata jujur menjadi penanggung jawab utama kehancuran seluruh sendi kehidupan lembaga dan bangsa yang dipimpinnya.
Dengan nyaris tiadanya pemimpin yang memberi keteladanan, semoga siapa pun juga terpanggil untuk mengembalikan martabat kemanusiaan kita, setidaknya dengan mulai memimpin diri sendiri untuk berkata dan bertindak jujur.
Belum terlambat untuk menjaga martabat.
Biarlah keajaiban kebaikan menuntun kita semua untuk membawa diri, keluarga, lembaga, masyarakat, dan bangsa menjadi lebih baik pada tahun 2011 ini.