Kamis, 17 Juni 2010

SIMBOK

Jongkok bersandar pada pilar teras. Menghadap ke barat. Pandangan jauh menerawang ke cakrawala. Berusaha membayangkan sedang apa simbok di sana. Mungkin sedang makan. Mungkin sedang menyapu, terbongkok-bongkok karena punggung yang sudah renta. Atau barangkali sedang mendoakan anak-anaknya. Iring-iringan awan di sekitar musim kemarau menghadirkan sosok seorang simbok yang sedang melakukan sesuatuseperti yang aku bayangkan. Ingin aku peluk kurus tapi lembut itu. Ingin aku cium kulit tua di pipinya. Hidungku berjuang keras mengendus aroma simbok.
“simbok … sedang apa mbok ?”
Kemarin pagi tidak biasanya menelepon, menanyakan keadaanku “ semua baik-baik mbok” begitu aku jawab. Aku tidak mau simbok ikut larut dengan permasalahan yang sedang aku hadapi, walau aku jawab semua baik-baik, aku merasa bahwa perasaan seorang simbok pasti tahu keadaan anaknya yang sedang tidak dalam keadaan baik. Aku juga merasa, simbok menutup telpon di sana dengan berat hati. Lalu seolah aku mendengar helaan nafas panjang dan berat.
Kadang aku ingin menanyakan, apa yang didoakan simbok setiap pagi di gereja. Apakah supaya anaknya bahagia ? sejahtera ? sukses dalam karir ? Tapi, mengapa jalan yang dilalui anaknya ini tak pernah mudah dan terang ?
Sudah satu bulan ini aku kehilangan pekerjaan. Perjuangan bertahun-tahun tanpa menghitung kepentingan pribadi. Kerja keras dengan harapan dapat menggantungkan hari tua nanti, harus menguap begitu saja. Walaupun aku Cuma seorang penjaga gudang, tetapi semua masadepan aku pertaruhkan di sana sudah ! Si boss pandai bicara, pandai memotivasi, sehingga aku juga merasa ikut memiliki perusahaan itu. Bahkan, tanpa berpikir buruk, sebagian kebutuhan perusahaan dipenuhi hutang atas namaku.
Tetapi sudah satu bulan ini aku tersadar, aku hanya karyawan biasa saja ! aku bukanlah salah satu pemilik perusahaan. Aku sama seperti yang lain. Dan seperti membalikkan tangan, kata itu mudah keluar, “kau dipecat !”
Tak ada yang membelaku. Aku hanya jalan menunduk pergi, kalah, dengan membawa ketidak jelasan hutang-hutang perusahaan atas namaku. Tak ada yang bias aku lakukan karena aku juga salah. Padahal semua pihak juga ada andil dalam kesalahan itu ! tetapi, hanya aku yang dihukum ! begitu perasaanku, hanya aku !
Jongkok bersandar pada pilar teras. Menghadap ke barat. Pandangan jauh menerawang ke cakrawala. Berusaha membayangkan sedang apa simbok di sana. Mungkin sedang makan. Mungkin sedang menyapu, terbongkok-bongkok karena punggung yang sudah renta. Atau barangkali sedang mendoakan anak-anaknya.
Selepas dipecat, aku bekerja apa saja, sedapatnya. Sekarang aku sedang membantu seseorang memplitur meja dan sofa. Sambil membersihkan sisa-sisa plitur, debu dan amplas, kenangan masa lalu lewat satu persatu.
Masa kecil dengan segala suka tanpa duka. “pak, mbok, berangkat sekolah, minta sangu !” kemudian tak disangkal lagi keceriaan selepas sekolah lebih membekas. Bermain sampai lupa waktu. Menjelang petang bapak harus mencari kami supaya mandi sambil membawa sabet. Kadang bapak harus mengejar-ngejar kami agar segera mandi.
Sejalan dengan waktu yang berlalu, sel-sel otak-pun semakin penuh dengan pemahaman-pemahanan akan hidup ini. Aku harus berhadapan dengan kata-kata : tanggung jawab, perjuangan, kebutuhan hidup, realitas hidup dan lain-lain. Pemahaman yang kadang aku tak suka, karena itulah yang aku anggap sebagai perenggut keceriaan hidup.
Dan ternyata hidup adalah perjalanan dari pilihan sau ke pilihan yang lain. Adakalanya kita tersesat pada begitu banyak pilihan itu ! berhitunglah aku. Berapa banyak pilihan yang sudah aku lewatkan begitu saja tanpa sadar, bahwa pilihan itu tak akan pernah kembali lagi. Berapa banyak pilihan yang salah aku lakukan. Mengapa demikian ? adakah aku menyesali pilihan-pilihan salah itu ? Seandainya ….. seandainya….. sampai akhirnya aku kembali terbanting pada kekinianku yang sedang aku rasakan berada di titik nadir untuk yang ke sekian kalinya.
Tidak ! pilihan telah aku buat. Konsekuensi telah aku jalani. Apa lagi ? keberhasilan dan kegagalan adalah relative. Apakah dengan berkelimpahan materi, aku dapat dikatakan berhasil atau sebaliknya ? walaupun sekarang aku sedang merasakan bahwa jalan yang sedang aku lalui itu tidak pernah mudah dan terang. Aku tidak pernah menyesal sedikitpun akan pilihan-pilihan yang sudah aku tentukan ! Sekalipun pilihan itu dinilai salah ! Allah pasti punya rencana dalam perjuangan hidupku ini. Entah, entah apa …..
Jongkok bersandar pada pilar teras. Menghadap ke barat. Pandangan jauh menerawang ke cakrawala. Berusaha membayangkan sedang apa simbok di sana. Mungkin sedang makan. Mungkin sedang menyapu, terbongkok-bongkok karena punggung yang sudah renta. Atau barangkali sedang mendoakan anak-anaknya.
Aku ingat persis pesan simbok yang selalu sama sejak dulu. Ketika aku masih kuliah, simbok tak pernah berpesan agar rajin belajar. Tetapi selalu keluar kata-kata “berhati-hatilah dan jadilah orang baik !” meskipun aku tidak mengerti dengan doa apa yang tersimpan di balik pesan itu, aku hanya mengangguk mengiyakan sambil mencium pipi kiri dan kanan simbok.
Dalam keterpurukan ini, entah untuk yang ke berapa kalinya, kemudian aku merasa bahwa ternyata sulit sekali untuk berhati-hati dan menjadi orang baik.
“mbok, apa yang simbok doakan ?” dalam hati aku selalu menanyakan itu. Padahal aku jarang sekali berdoa memohon kepada Allah. Aku merasa tak pantas memohon sesuatu kepada Allah. Satu-satunya permohonan yang sering aku bisikkan adalah mohon ampun atas segala kesalahanku. Biarlah simbok yang memohonkan untukku.
Dalam kegelapan jurang pergulatan hidup ini, mbok, aku berterima kasih kepadamu untuk semua penyertaan doa-doamu. Aku tidak tahu apakah doa simbok terkabulkan atau tidak, atau mungkin belum, karena aku tidak tahu apa yang didoakan simbok. Tetapi yang pasti aku tahu, karena doa-doa simbok anakmu ini selalu berusaha bangkit. Dan mungkin inilah jalan hidup yang harus anakmu jalani, jatuh, bangkit, jatuh dan bangkit lagi
“Terima kasih mbok, aku mencintaimu selalu”


Oleh : R. Tri Haryoko
Majalah HIDUP, Mingguan Umat Beriman
No 11 Tahun ke-64 Tanggal 14 Maret 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar