Jumat, 04 Februari 2011

Andai Aku Robin Hood

CATATAN MINGGU


Minggu,

30 Januari 2011

Bre Redana


Manusia secara alami makhluk politik, kata Aristoteles. Kehidupan publik dari ”masyarakat yang baik” mencerminkan sifat (alami) masyarakatnya.

Mari kita periksa, seberapa jauh hipotesis itu benar, dengan misalnya melihat para pemimpin.

Soalnya, sehari-hari kita kini dikepung oleh representasi media.

Media bisa menggelembungkan, mendistorsi, atau membelokkan citra.

Hanya saja, apakah benar semutlak itu kekuatan media sebagai representasi citra?

Masih menjadi kenangan sebagian orang kedatangan Presiden Barack Obama ke Asia, termasuk Indonesia, beberapa waktu lalu.

Beberapa media Barat menyorot kegagalan misi itu.

Ada yang menyebut sekarang Amerika Serikat tidaklah seotoritatif masa-masa sebelumnya.

Kita di sini mana peduli. Dalam kunjungan singkatnya ke Indonesia, Obama telah menarik simpati masyarakat habis-habisan.

Pencitraan media dianggap punya andil.

Pidatonya yang fasih dan memikat di UI juga dilengkapi teleprompter, yang memungkinkan yang bersangkutan bisa membaca kata-kata kunci yang hendak ia ucapkan.

Toh, banyak orang tak keberatan dengan itu.

Kami—saya termasuk di dalamnya—merasa mengenal lebih intim Obama dibandingkan dengan pengenalan kami terhadap pemimpin-pemimpin lain, termasuk pemimpin negeri sendiri.

Jangan-jangan, Obama bahkan juga lebih mengerti kami daripada kami mengerti dia....

Agak sulit dijelaskan, meski ada intervensi media, pada sejumlah pemimpin, pada sejumlah tokoh, orang masih bisa melihat adanya kejujuran—bukan kepalsuan.

Pandangan serupa bisa dibalik, meski media merekayasa luar biasa, ditambah lagi koor katakanlah semua juru bicara seorang pemimpin, ketidakjujuran sebenarnya juga tak bisa ditutup-tutupi.

Rakyat kecil yang melarat dan hidup sehari-hari susah tak perlu direkayasa atau ditodong pistol kepalanya untuk percaya bahwa angka-angka yang menjelaskan peningkatan kemakmuran sebenarnya menipu.

”Human nature exists, and it is both deep and highly structured,” kata ahli biologi Edward O Wilson.

Sesuatu yang alami pada manusia ada, dan itu mengakar dalam serta sangat terstruktur.

Boleh jadi memang demikian.

Kalau tidak ada sesuatu yang sangat alami pada manusia, bagaimana prinsip-prinsip universalitas bisa tumbuh? Hak-hak asasi manusia alias HAM, prinsip-prinsip moral, serta hukum internasional bisa punya legitimasi?

Kesamaan-kesamaan yang alami itulah yang membuat kita tidak sepenuhnya bisa dimanipulasi,

termasuk oleh strategi representasi media, katakanlah dalam politik pencitraan.

Para penonton televisi bisa menerima ketika suatu pagi tiba-tiba Luna Maya muncul lagi di acara hiburan yang dulu biasa diasuhnya.

Ada teman yang mengaku terharu melihat dara yang wajahnya ia komentari baik itu.

Mungkin maksudnya, ada yang natural pada Luna.

Itu berbeda dibandingkan kalau melihat Gayus (saya tidak ingin memakai contoh lain, misalnya tokoh yang sedang digunjingkan minta naik gaji).

Melihat sepak terjangnya, rasanya sulit percaya terhadap apa yang diucapkan para pengacara bahwa ia akan membantu membongkar kejahatan mafia pajak sampai ke akar-akarnya.

Pencipta lagu jangan-jangan malah terdorong untuk membikin parodi, dengan lagu berjudul ”Andai aku jadi Robin Hood”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar